Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “Baling Baling Bambu”? Bukan bermaksud sok tau, tapi saya rasa sebagian besar orang berpikiran hal yang sama, yaitu alat yang dimiliki oleh karakter imajinasi dari jepang, Doraemon, alat yang digunakan Doraemon dan kawan-kawan untuk terbang. Tapi disini saya tak akan bercerita mengenai canggihnya alat Doraemon itu. Saya akan berusaha merangkaikan kata mengenai kisah Baling Baling Bambu, mainan tradisional yang tentunya terbuat bambu tentunya
Seorang Bapak tua selalu terlihat melintas di jalan depan rumah saya setiap malam. Dengan mengayuh sepeda, ia menjajakan beberapa macam mainan sederhana yang terbuat dari bambu. Sebenarnya saya sudah lama mengamati Bapak tua itu, tapi baru malam ini saya memberanikan diri untuk menyapanya. Karena di malam sebelumnya, saya melihat sepasang suami istri (mungkin…), sengaja memberhentikan Bapak ini untuk membeli beberapa dagangannya.
Jika melihat dari perawakannya, mungkin beliau sudah berumur lebih dari 60 tahun. Di usia tersebut, seharusnya beliau menikmati masa istirahatnya bersama keluarga di rumah. Namun setiap malam, hujan atau pun tidak, ia menjajakan dagangannya, salah satunya si Baling Baling Bambu ini.
Saya sengaja menunggu Bapak itu, berniat memberhentikan sejenak perjalanannya untuk mendapatkan Baling Baling Bambu tersebut. Sekelumit pembicaraan pun terjadi antara kami; saya, Rano dan bapak itu, setelah bapak itu selalu menawarkan dagangannya (dengan ucapannya yang kurang begitu jelas, yang mungkin karena bapak itu sudah kempot – maap ya Pak
)
saya : “Bapak tinggal dimana, saya lihat tiap malam terus jalannya?”
bapak : “Jauh, di japos” (red: daerah di tempat saya jag berada di ujung jalan sekali)
saya : “kok malam-malam gini pak? kenapa gak siang aja?”
bapak : “kalau siang panas, kalau malam kan enak, adem”
saya : “trus bapaknya jalannya kemana aja?”
bapak : “ya jalan saja nanti balik lagi” (agak kurang jelas kedengarannya, karena bising dan logat yang kurang jelas pula)
saya : “kenapa gak di sekolahan aja pak?”
bapa : “di sekolah …. ” (gak jelas lagi dengernya
)
Disepanjang pembicaran ini, Rano hanya manggut-manggut karena juga gak ngerti bapak bicara apa. Karena sekali lagi kurang jelas.
Akhirnya bapak memilihkan beberapa dagangan terbaiknya untuk kami. Daganganya yaitu Baling Baling Bambu ini, Boneka yang berbentuk tikus yang di tempelkan di bambu sehingga bisa berputar, mainan burung plastik yang ditempelkan ke seutas bambu yang jika diputar bisa mengeluarkan bunyi. Ketika kami tanya berapa harganya, ia tidak menyebutkan harga, dia bilang seberapa saja yang mau dikasih. Hmhmm saya dan Rano malah tambah bingung saja. Tambah lagi, bapak itu mau menambahkan 1 bonus dagangannya untuk kami. Tak enak hati, kami hanya mengambil 2 buah Baling Baling Bambu untuk dibawa pulang. Pasti bayar tentunya :>
Teringat kembali tayangan mengenai pembuatan& nasib produsen mainan ini pada acara “Tepi Jaman” di sebuah stasiun tv swasta beberapa bulan lalu. Betapa “njelimet” nya pembuatan mainan ini, mulai dari membeli bambu, pemotongan, pengecatan, pemotongan karton, dll. Harga yang ditawarkan penjual tidak sebanding dengan jerih payah serta kesabaran pembuatannya. Entah si bapak ini membuat sendiri atau tidak, saya tidak tahu. Namun semangat Bapak tua yang menjajakan mainan tradisional yang hampir tergerus oleh modernisasi jaman, terkalahkan dengan mainan modern nan canggih, yang patut diacungkan jempol. Setidaknya ia telah berjasa melestarikan mainan tradisional ini.
Semoga baling baling ini tetap berputar dan berbunyi di terpa angin modernisasi jaman
Sejujurnya, saya tidak tahu pasti apa namanya mainan ini. Mungkin di lain daerah namanya pun beda. Kalau ada yang tahu apa namanya, mungkin bisa diinfokan ke saya untuk meng-update tulisan ini.
update:
Ada yang menyebut mainan ini Baling Baling Bambu, Kitiran Bambu, Kincir Kertas, dll