Feeds:
Pos
Komentar

Jalan-jalan Curug Argapura

Bulan kemarin saya pulang ke kampung halaman. Sudah lama tidak menghirup segarnya udara kampung halaman. Setelah beberapa hari di rumah, ingin rasanya jalan-jalan ke lokasi rekreasi yang ada di Majalengka. Dan tujuannya adalah Curug Argapura. Jalanlah saya ke lokasi tersebut dengan bermodalkan ingin bersenang-senang dan sebuah kamera. Pukul 3 saya sampai lokasi tersebut dan langsung bermain dengan segarnya air pegunungan. Tidak lupa jg kamera saya mainkan. Jepret….jepret….jepret…

image

Curug Argapura

Hari mulai sore dan mataharipun mulai turun menuju peraduannya. Saya pulang dengan penuh rasa senang. Terima kasih Tuhan atas keindahan yang Engkau anugerahkan kepada kami.

“Mati Suri”

Sudah setahun lebih saya tidak meng-update blog ini. Mau diisi apa juga bingung, memang tidak ada ide, hanya “omong kosong” yang memenuhi isi kepala.

Mudah-mudahan blog ini bisa update lagi dengan info yang bisa berguna bagi pengunjung. Sayang klo nantinya udah buang bandwidth ke blog ini tapi gak ada info berguna🙂

Mohon do’anya ya.

Welcome 2011!

Yeeaaayyy 2011 is coming! Happy New Year everyone!

*Telat ya.. baru nge-blog bahas tahun baru di tanggal segini (10/01).  Gak apa – apa dey dari pada gak sama sekali.

Yep.. 2011, so what?! Haruskah planning untuk jalani tahun ini?
Semua orang pasti punya planning di tahun ini. Entah rencana sekolah lagi, menikah, beli ini beli itu.. (apalagi ya??).  Saya sendiri berharap sesuatu yang lebih baik akan datang di tahun ini.

Rencana tahun ini:

  • buat project 1 hari 1 photo & upload di flickr  *bisa gak ya?
  • Ikutan gebrakan #30hari catat pengeluaran bulanan dari famous Financial Planner @mrshananto  & gak cuman buat bulan Januari.. tapi seterusnya sampai akhir tahun *mudah-mudahan berhasil menekan pengeluaran n bisa nabung
  • Crafting..  crafting.. and crafting *bahan bahan udah tersedia, tinggal idenya & niatnya😛

Yap.. sementara itu dulu aja. Mudah-mudahan commit.😀

Baling Baling Bambu Bapak Tua

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “Baling Baling Bambu”? Bukan bermaksud sok tau, tapi saya rasa sebagian besar orang berpikiran hal yang sama, yaitu alat yang dimiliki oleh karakter imajinasi dari jepang, Doraemon, alat yang digunakan Doraemon dan kawan-kawan untuk terbang. Tapi disini saya tak akan bercerita mengenai canggihnya alat Doraemon itu. Saya akan berusaha merangkaikan kata mengenai kisah Baling Baling Bambu, mainan tradisional yang tentunya terbuat bambu tentunya🙂

Seorang Bapak tua selalu terlihat melintas di jalan depan rumah saya setiap malam. Dengan mengayuh sepeda, ia menjajakan beberapa macam mainan sederhana yang terbuat dari bambu. Sebenarnya saya sudah lama mengamati Bapak tua itu, tapi baru malam ini saya memberanikan diri untuk menyapanya. Karena di malam sebelumnya, saya melihat sepasang suami istri (mungkin…), sengaja memberhentikan Bapak ini untuk membeli beberapa dagangannya.

Jika melihat dari perawakannya, mungkin beliau sudah berumur lebih dari 60 tahun. Di usia tersebut, seharusnya beliau menikmati masa istirahatnya bersama keluarga di rumah. Namun setiap malam, hujan atau pun tidak, ia menjajakan dagangannya, salah satunya si Baling Baling Bambu ini.

Saya sengaja menunggu Bapak itu, berniat memberhentikan sejenak perjalanannya untuk mendapatkan Baling Baling Bambu tersebut. Sekelumit pembicaraan pun terjadi antara kami; saya, Rano dan bapak itu, setelah bapak itu selalu menawarkan dagangannya (dengan ucapannya yang kurang begitu jelas, yang mungkin karena bapak itu sudah kempot – maap ya Pak🙂 )

saya    : “Bapak tinggal dimana, saya lihat tiap malam terus jalannya?”
bapak : “Jauh, di japos” (red: daerah di tempat saya jag berada di ujung jalan sekali)
saya    : “kok malam-malam gini pak? kenapa gak siang aja?”
bapak : “kalau siang panas, kalau malam kan enak, adem”
saya    : “trus bapaknya jalannya kemana aja?”
bapak : “ya jalan saja nanti balik lagi” (agak kurang jelas kedengarannya, karena bising dan logat yang kurang jelas pula)
saya    : “kenapa gak di sekolahan aja pak?”
bapa   : “di sekolah …. ” (gak jelas lagi dengernya😐 )
Disepanjang pembicaran ini, Rano hanya manggut-manggut karena juga gak ngerti bapak bicara apa. Karena sekali lagi kurang jelas.

Akhirnya bapak memilihkan beberapa dagangan terbaiknya untuk kami. Daganganya yaitu Baling Baling Bambu ini, Boneka yang berbentuk tikus yang di tempelkan di bambu sehingga bisa berputar, mainan burung plastik yang ditempelkan ke seutas bambu yang jika diputar bisa mengeluarkan bunyi. Ketika kami tanya berapa harganya, ia tidak menyebutkan harga, dia bilang seberapa saja yang mau dikasih. Hmhmm saya dan Rano malah tambah bingung saja. Tambah lagi, bapak itu mau menambahkan 1 bonus dagangannya untuk kami. Tak enak hati, kami hanya mengambil 2 buah Baling Baling Bambu untuk dibawa pulang. Pasti bayar tentunya :>

Teringat kembali tayangan mengenai pembuatan& nasib produsen mainan ini pada acara “Tepi Jaman” di sebuah stasiun tv swasta beberapa bulan lalu. Betapa “njelimet” nya pembuatan mainan ini, mulai dari membeli bambu, pemotongan,  pengecatan, pemotongan karton, dll. Harga yang ditawarkan penjual tidak sebanding dengan jerih payah serta kesabaran pembuatannya. Entah si bapak ini membuat sendiri atau tidak, saya tidak tahu. Namun semangat Bapak tua yang menjajakan mainan tradisional yang hampir tergerus oleh modernisasi jaman, terkalahkan dengan mainan modern nan canggih, yang patut diacungkan jempol. Setidaknya ia telah berjasa melestarikan mainan tradisional ini.

Semoga baling baling ini tetap berputar dan berbunyi di terpa angin modernisasi jaman

Sejujurnya, saya tidak tahu pasti apa namanya mainan ini. Mungkin di lain daerah namanya pun beda. Kalau ada yang tahu apa namanya, mungkin bisa diinfokan ke saya untuk meng-update tulisan ini.

update:

Ada yang menyebut mainan ini Baling Baling Bambu, Kitiran Bambu, Kincir Kertas, dll

Setelah seharian mengunjungi ajang Inacraft, sorenya jalan ke Sency. Niatnya cuma mau makan tapi muncul ide buat nonton. Bingung mau nonton apa, karena gak ada referrence apapun. Pilih The Book of Eli atau Solomon Kane?? akhirnya pilih The Book of Eli ..

Tiga puluh tahun setelah peristiwa apokaliptik, Eli (Denzel Washington) melakukan perjalanan berjalan kaki ke pantai barat Amerika Serikat. Sepanjang jalan dia menunjukkan atipikal namun efektif keterampilan bertahan hidup dan berjuang, berburu satwa liar yang aneh dan dengan cepat mengalahkan sekelompok bandit jalan raya yang berusaha menyergapnya. Mencari sumber air ia tiba di sebuah kota bobrok yang dibangun oleh dan diawasi oleh Carnegie (Gary Oldman). Carnegie mimpi bangunan kota lebih dan engsel harapan untuk menemukan buku tertentu. antek-Nya menjelajahi lanskap sepi harian dalam pencarian itu.

Tidak terbayang keadaan di jaman itu, kanibalisme merajalela demi mempertahankan hidup. Jangankan air bersih, shampo pun menjadi barang langka yang sangat berharga. Tak ada hukum yang ditaati.

Seorang pemimpin yakin bahwa ia bisa membuat orang-orang disana taat padanya. Jalan keluarnya dengan menyebarkan pedoman dari sebuah buku. Maka ia memerintahkan bawahan-bawahannya mencari “buku” tersebut.  Secara kebetulan, Eli menyinggahi kota tersebut untuk mendapatkan air bersih, yang ia barter dengan barang-barang yang ia miliki.

Tak disangka, buku yang dicari sejak lama oleh Carnigie berada pada Eli. Bagaimana cerita selajutnya? dan “buku” apa itu sebenarnya? Silahkan Anda tonton sendiri filmnya, karena kalau saya beberkan disini jadi tidak seru. Intinya, saya tidak bisa membayangkan apa jadinya manusia jika hal itu terjadi. Kiamat? mungkin saja😦

Wisata 1 hari Bandung Selatan

Kawah Putih

Awal Desember lalu saya dan teman-teman berkesempatan untuk jalan-jalan bareng ke daerah Bandung Selatan dengan menggunakan salah satu jasa Travel, Nice Travel namanya. Dengan biaya yang sangat terjangkau sekitar 185 ribu rupiah saja. Nice tour with “Nice Travel”… thanks mbak Eliz as our tour guide

Berikut itinerary-nya :

ITINERARY CIWIDEY 05 DESEMBER 2009:

Pkl. 06.00 – 10.00 : Perjalanan Menuju Ciwidey untuk mengunjungi Objek Wisata
Kawah Putih
Pkl. 10.00 – 11.30 : Kunjungan Di Objek Wisata Kawah Putih
Pkl. 11.30 – 12.00 : Perjalanan Ke Danau Situpatenggang
Pkl. 12.00 – 13.30 : Kunjungan Di Objek Wisata Danau Situpatenggang
Makan Siang di Lokasi Objek Wisata
Pkl. 13.30 – 15.30 : Perjalanan ke Bandung Kota
Pkl. 15.30 – 16.00 : Perjalanan ke Jl. Riau untuk ke Factory Outlet
Pkl. 16.00 – 17.00 : Kunjungan di Factory Outlet Jl. Riau
Pkl. 17.00 – 17.30 : Perjalanan ke Kartika Sari
Pkl. 17.30 – 18.00 : Kunjungan di Kartika Sari belanja oleh2
Pkl. 18.00 – 18.30 : Perjalanan ke Resto Bebek Garang untuk Dinner
Pkl. 18.30 – 19.30 : Dinner Di Bebek Garang Menu Special Bebek Bakar
( Masuk Wisata Kuliner, Bondan Winarno Recommended )
Pkl. 19.30 : Kembali Ke Jakarta

Jadwal lumayan tepat waktu.. cuman rada molor dikit gara-gara temen gak balik-balik sewaktu dikasih waktu belanja di FO *beuuhh . Makanan yang diprovide juga ok punya, sarapan nya berupa hot-dog ala rumahan, makan siang berupa nasi box yang dimakan di dalam bis saat perjalanan ke Bandung kota, dan makan malamnya seperti yang dijadwalkan, Bebek Bakar.

Cuman sewaktu perjalanan dari Kawah Putih menuju Situpategang dihiasi dengan gerimis. Beberapa saat sesampainya disana hujan deras turun. Alhasil kita hanya bisa menikmati pemandangannya sebentar, selebihnya di dalam bis.

Selanjutnya pada saat ke jalan Riau, keadaan lumayan macet, apalagi kami sampai disana sekitar pukul 17.00. Karena memang weekend, jadi keadaan tambah rame.  Semua terpencar ke FO untuk belanja. Nah.. disinilah temen-temen saya pada ‘bandel’ yang tidak kembali ke bis tepat waktu. Alhasil satu bis pada ‘nyorakin’😛

Setelah itu, kami perjalanan ke tempat makan malam, Bebek Garang, lokasinya di depan  gedung rektorat ITB. Mau tau apa itu Bebek Garang? artinya Bebek Segar Merangsang.. ah ada-ada aja niy namanya.

Lanjut.. perjalanan kembali ke Jakarta. Sampai di depan komdak, Semanggi kira kira pukul 22.00.

Perjalanan yang cukup menyenangkan walaupun hanya sehari. Sangat ampuh untuk menghilangkan stress saya, yan waktu itu dikejar deadline tugas Akhir.. wkkwkkk..

Surrogates

Surrogates

Apa jadinya kalau makhluk yang berhadapan dengan kita entah pada waktu bekerja atau bersama keluarga bukanlah  “manusia” yang sebenarnya? Apa jadinya kalau pacar, saudara ataupun kerabat yang kita temui, penampilannya ada penampilan buatan. Entah itu lebih muda, tua, kurus, gemuk, lebih pendek ataupun lebih rendah. Hmhmm ini yang terjadi di cerita film ini.

Dalam waktu dekat, manusia hidup dalam isolasi dan hanya berinteraksi melalui badan-badan robot yang berfungsi sebagai pengganti. Ketika beberapa manusia dibunuh ketika pengganti mereka dihancurkan, seorang polisi (Bruce Willis) menyelidiki kejahatan melalui pengganti sendiri. Setelah pertemuan yang hampir fatal, pengganti si polisi dihancurkan dan memaksa dia untuk membawa bentuk manusia keluar dari isolasi dan mengungkap konspirasi di balik kejahatan.

Pada suatu masa, peradaban manusia berubah. Kehidupan manusia dapat dikendalikan pada suatu ruangan dengan suatu benda yang dinamakan Surrogates (pengganti). Manusia tidak perlu menjalani hidupnya dengan keluar dari ruang kendali tersebut. Surrogates, dibuat untuk mempermudah hidup manusia. Tapi apa jadinya kalau dengan “Surrogates” tersebut hilanglah rasa “kemanusiaan” kita.

Cerita bermula dari  seseorang yang menemukan teknologi baru dan mengembangkannya untuk kepentingan umum. Ia menciptakan robot pengganti manusia (Surrogates).  Setelah teknologi ini banyak dipakai public timbul-lah masalah. Anak dari si penemu, tewas di atas meja kendalinya, dengan mata terluka. Anaknya ternyata dipinjamkan surrogates oleh ayahnya, dan di bawanya untuk ketempat hiburan. Namun naas, ada pihak yang ingin menjahatinya, ia dibunuh dengan menembakkan suatu senjata dan merusak sistem “surrogates”nya yang terhubung dengan sistem saraf  (dimana alat ini dikendalikan oleh otak si pemilik). Alhasil sistem sarafnya juga kena imbas, dan ia tak tertolong.

Bagaimana perasaan si penemu? Anak kesayangannya tewas akibat hasil ciptaannya.

Seorang polisi, Tom Greer (Bruce Willis), mencoba menginvestigasi siapa pelaku pembunuhan dan dalangnya.

Didalam pencariannya itu ternyata ada pihak yang ditengarai sebagai dalang dari pembunuhan ini, pihak anti-Surrogates. Pihak ini menentang keras digantikannya interaksi di kehidupan manusia dengan sebuah robot, walaupun dikendalikan oleh Manusia. Mereka memiliki kawasan tersendiri, dimana semua orang yang akan memasuki kawasan ini akan diperiksa, apakah ia robot atau benar-benar manusia. Kaum ini dipimpin oleh seorang “Nabi” yang menentang adanya Surrogates tersebut.

Pada pengejaran pelaku yang ternyata tidak menggunakan surrogates, alias manusia sungguhan, Greer, memasuki daerah terlarang dengan surrogatesnya. Kaum  anti Surrogates jelas marah sekali, kawasannya dimasuki robot. Surrogates milik Greer dihancurkan dan di salibkan di kawasan tersebut. Selain kehilangan “Surrogates” nya, Greer diberhentikan sementara sebagai agen FBI karena telah melanggar perjanjian kaum tersebut (anti Surrogates).

Ruang Kendali

Ruang Kendali Surrogates

Bruce Willis tidak sendiri dalam pencarian pelaku kriminal ini, ia di bantu oleh Peters (FBI agent) dan Bobby (ahli komputer). Semua orang yang terlibat dalam hal ini dihantui pembunuhan tersebut. Seorang rekannya tewas dibunuh, dan surrogates-nya di kendalikan oleh orang lain.

Bruce Willis kembali mendatangi kawasan kaum, tidak dengan Surrogatesnya namun dengan dirinya yang sebenarnya. Ya.. ia pasti dicurigai disana, ia mencoba bertemu dengan Sang Nabi, mencoba bernegosiasi. Sang Nabi tahu siapa pelakunya dan pelakunya bunuh diri. Sang Nabi pun berjanji untuk membantu dan menjaga agar senjata yang dapat mengahncurkan Surrogates dan pemiliknya tidak dipergunakan untuk hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhir dari cerita di film yang berdurasi kurang dari 2 jam ini, bagi saya agak membingungkan. Terlebih lagi di temukan kenyataan bahwa Sang Nabi pun ada ROBOT
Argghh..bagaimana sebenarnya? Anda dapat menyaksikannya secara langsung saja. Daripada saya yang cerita, nanti tambah bingung lagi deh.

Dalam film ini, kita dimanjakan oleh teknologi-teknologi yang mungkin muncul dan berkembang pada masa depan. Tidak mustahil jika perkembangan teknologi akan berkembang, film ini akan menjadi nyata. Saya salut bagi penulis ceritanya, bagaimana ia bisa membayangkan teknologi seperti itu.

Film ini adaptasi dari sebuak komik fiksi ilmiah yang berjudul sama. Surrogates disutradarai oleh Jonathan Mostow, yang juga telah menyutradarai film Terminator 3 : Rise of the Machines.